Senin, 23 Agustus 2010
MANFAAT ORGANISASI
Salah satu cara berhubungan dengan orang lain adalah melalui organisasi. Melalui organisasi, kita mampu mengolah diri dengan benar, baik secara naluriah maupun fitrah.
Bukti telah banyak di depan mata. Orang-orang yang sukses sebagai pemimpin, pengusaha, atau status sosial yang mapan lainnya, pasti dulunya mereka pernah mengenyam pahit manisnya berorganisasi. Mereka banyak makan asam garam dalam organisasi itu. Sebut saja Gus Dur salah satunya.
Mengapa organisasi demikian penting bagi kita, terutama di zaman yang mendunia (global) saat ini? Itu tidak lain karena dalam berorganisasi kita akan terasah dan terlatih untuk hidup berjamaah dengan orang lain, baik suka maupun duka. Di suatu organisasi itulah tercampur secara alamiah berbagai perilaku dan sifat masing-masing anggota. Ada yang egois, namun ada pula yang sosial. Ada yang pendiam, tapi ada pula yang cerewetnya minta ampun.
Nah, dalam kebersamaan di organisasi itulah, akan terbentuk secara alami manusia yang sempurna dalam arti psikologis. Yakni, manusia yang mampu kapan saatnya menempatkan posisi dirinya sebagai individu dan kapan pula dia harus lebih mementingkan kepentingan organisasi demi kepentingan bersama pula.
Untuk mencapai nikmatnya manfaat berorganisasi itu memang butuh proses yang panjang dan lama. Tidak bisa kita hanya berorganisasi dalam beberapa bulan lalu menuntut kematangan pribadi seperti yang diuraikan tersebut.
Oleh karena itu, kita harus mengetahui bagaimana cara-cara berorganisasi yang baik. Berikut beberapa cirinya.
Pertama, organisasi harus memiliki anggota yang jelas identitas dan kuantitasnya. Untuk saat ini, setiap organisasi yang modern pasti menuntut para anggotanya memiliki KTA (kartu tanda anggota). Maka, tidak dibenarkan istilah ”Romli” atau “rombongan liar” yang merupakan kumpulan dari ”Talap” alias “anggota gelap” dari sebuah ”OTB” singkatan dari “organisasi tanpa bentuk”.
Kedua, organisasi harus memiliki pula identitas yang jelas tentang keberadaannya dalam masyarakat. Artinya, jelas di mana alamat kantornya. Tampak pula aktivitas sehari-hari kantor tersebut dalam menjalankan roda organisasi. Ada pula nama, lambang, dan tujuan organisasi yang termuat dalam AD (anggaran dasar) dan ART (anggaran rumah tangga).
Demikian pula struktur organisasinya. Masih banyak lagi yang bisa membuktikan keberadaan organisasi itu di mata masyarakat. Jika identitas tak jelas, maka jangan salahkan masyarakat bila menaruh curiga terhadap organisasi itu.
Ketiga, organisasi harus memiliki pemimpin serta susunan manajemen yang juga jelas pembagian tugasnya. Masing-masing bagian, divisi, maupun seksi juga aktif memainkan perannya. Jadi, sangat ganjil dan dipastikan ”sakit parah” jika organisasi itu yang tampak paling aktif adalah ketuanya sehingga tampak seperti pertunjukan sirkus one man show dalam manajemen organisasi itu.
Keempat, dalam setiap aktivitas organisasi harus mengacu pada manajemen yang sehat. Misalnya, ada tiga tahapan dalam menjalankan roda organisasi, yaitu planning (peren-canaan), action (pelaksanaan), dan evaluation (penilaian). Ketiga tahapan itu selalu dimusyawarahkan dan melibatkan sebanyak mungkin anggotanya, terutama saat melewati tahap action.
Dalam manajemen itu, yang juga harus mendapat perhatian serius adalah administrasi. Surat bernomor, kop surat, dan ciri-ciri administrasi lainnya yang lazim ada di sebuah organisasi.
Kelima, organisasi harus mendapat tempat di hati masyarakat sekitarnya. Artinya, organisasi itu dirasakan benar manfaatnya bagi masyarakat. Maka, kegiatan organisasi dituntut untuk mengakar kepada kebutuhan anggota khususnya, bahkan untuk masyarakat di sekelilingnya.
Jika kelima syarat organisasi sehat itu sudah ada, maka janganlah ragu untuk berkiprah di organisasi itu. Ikutlah secara aktif di dalam organisasi itu apa pun peran atau tugas yang diberikan ketua atau atasan langsung Anda. Ingatlah, sekecil apa pun peranan Anda di suatu organisasi dan Anda berhasil menjalankan amanat itu, berarti Anda memiliki andil dalam menghidupkan organisasi tersebut. Anda harus bangga bahwa ternyata Anda masih bermanfaat bagi organisasi. Itu juga berarti Anda bermanfaat bagi orang lain yang ada di organisasi. Kalau Anda sukses menjalankan tugas yang kecil tadi, pasti pemimpin Anda akan memberikan amanat yang makin besar dari waktu ke waktu. Bahkan, bukan suatu hal yang mustahil jika nanti Anda sendirilah yang memimpin organisasi itu. Modal pengalaman memimpin organisasi tadi pasti akan bermanfaat bagi Anda dalam terjun di organisasi kemasyarakatan yang lebih besar. Percayalah!
Akhirnya, selamat berhikmat dalam organisasi. Semoga Anda menuai manfaat dari hikmat berorganisasi itu kelak bila hidup di tengah-tengah masyarakat, baik lingkup desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, negara, bahkan tingkat dunia. Amin.
Jumat, 18 September 2009
Solusi yang Elegan Mengatasi Kemiskinan
Ngeri. Itulah yang pertama menghunjam hati penulis bila mendengar kata “miskin”. Sebab, sudah lazim di benak khalayak, orang yang distigma miskin berarti tidak punya apa-apa. Tiada arti bagi masyarakat, kecuali jadi beban yang berat. Tak punya makna di mata manusia, selain sebagai peminta-minta. Hidupnya tak eksis, kecuali jadi pencari sesuatu yang gratis-gratis. Pendek kata, umumnya warga memperlakukan kaum papa itu sebagai warga yang dipandang sebelah mata. Akibatnya, yang miskin tetap miskin.
Melihat kenyataan itu, penulis prihatin sekali. Mengapa? Karena, mereka yang tergolong miskin itu pasti masih punya potensi dan harga diri. Mereka pasti mau bangkit dari keterpurukan ekonomi. Penulis yakin keinginan mengubah nasib itu pasti ada di hati tiap kaum dhu’afa. Mana mungkin ada orang yang mau hidup sengsara.
Berkaitan dengan hal itu, penulis mencoba menawarkan suatu solusi yang elegan untuk mengatasi kemiskinan, yaitu berprofesi sebagai guru les. Setidaknya ada tiga alasan yang mendukung. Pertama, nilai moral yang tinggi. Kedua, modal awal yang minim. Ketiga, pangsa pasar yang terus terbuka lebar.
Siapa pun pasti hormat kepada orang yang berpredikat guru. Demikian juga kepada guru les. Karena, profesi pendidik itu sangat mulia, yakni membimbing anak yang belum paham menjadi mengerti dan memiliki nilai lebih dengan ilmu yang diajarkan guru kepadanya. Bahkan, pepatah Jawa berakronim, “Guru kuwi kena digugu lan ditiru.” Artinya, guru adalah orang yang dapat dipercaya ucapannya dan diteladani perbuatannya. Alhasil, profesi guru les sangat terhormat di mata masyarakat. Maka, betapa elegannya warga miskin yang mau menekuninya dan pasti terangkat status sosialnya berkat kelebihan ilmunya. Ini alasan pertama.
Argumen kedua adalah modal kerja yang dibutuhkan relatif kecil, yaitu otak, tenaga, dan ketrampilan-praktis mengajar. Maka, warga miskin yang punya potensi lebih dalam olah pikir dan mau berbagi kelebihan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain, profesi guru les inilah yang sangat tepat. Penulis yakin mereka sudah punya sifat sabar, mau berbagi dengan sesama, serta tidak menuntut imbalan materi yang berlebihan. Kriteria itu sudah cukup memenuhi syarat sebagai guru les.
Alasan terakhir, karena peluang kerja sebagai guru les sangat dibutuhkan di masyarakat, terutama di perkotaan. Kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anaknya yang makin tinggi merupakan angin segar bagi guru les. Karena materi pelajaran di sekolah makin sulit, maka pasti siswa juga susah memahaminya sendiri. Di sinilah, jasa guru les sangat diperlukan untuk bimbingan tambahan bagi siswa. Jadi, jangan khawatir dapur tak mengepul jika mau berprofesi sebagai guru les.
Pengalaman penulis sebagai guru les siswa SD dan SMP selama sepuluh tahun lebih membuktikan bahwa jadi guru les itu enak. Tuntutannya tidak seberat guru sekolah secara adminis-tratif. Misalnya, harus menyiapkan silabus sebelum mengajar, harus membuat soal ulangan dan menilainya, serta tugas tetek bengek lainnya. Belum lagi tuntutan utama memberikan pelajaran di kelas.
Yang sering penulis alami sebagai guru les hanyalah tuntutan memuaskan siswa dalam menjelaskan penyelesaian pekerjaan rumah dari guru sekolah. Maka, penulis dituntut maksimal menguasai materi pelajaran yang sedang diajarkan. Jika itu sudah terpenuhi, maka tinggal menghadapi persoalan yang dihadapi siswa dari sekolahnya. Itu pun tidak semua pelajaran yang ditanyakan ke penulis sebagai guru les. Yang sering ditanyakan hanya matematika, bahasa Inggris, dan IPA.
Nikmatnya lagi, total honor yang penulis terima sebulan rata-rata sama dengan gaji guru yang sudah PNS. Meski uang bukan tujuan utama, itu penulis anggap hadiah atas jerih payah dalam membantu siswa menuntaskan masalah pelajarannya di sekolah.
Nah, enak, bukan? Maka, marilah mengatasi kemiskinan dengan cara yang elegan, yaitu jadilah guru les sekarang juga!